Wanita

Aku tak bisa memejam kan mataku. Walau lelah mengrogoti tubuhku, mata ini tetap mampu terjaga. Hidup yang begitu cepat berlalu, memaksaku menuju pada satu putusan yang paling tidak pernah kuinginkan. Tapi pilihan memintaku atau mungkin mengharuskan aku untuk setuju.

Tak bergerak, ku biarkan tubuhku terlentang di atas kasur. Mata nanar ku memandang langit-langit kamar yang tak terlihat. Lampu kamar memang sengaja ku matikan. Hanya sedikit cahaya lampu taman yang memancar masuk melalui jendela.

Mencoba menikmati malam ini ternyata sulit. Setiap detik hanya kepedihan dan sesak yang menyiksa. Air mata bahkan sudah tidak mampu membasuh sakit yang aku rasa. Tapi, aku tidak bisa menolak. Aku hanya mampu menahan.

Seandainya bunuh diri diperbolehkan Tuhan, mungkin aku kan mencari cara mati dengan cepat. Tapi, aku hanyalah manusia, yang tak terdaya berbuat sesuka hatiku. Menjadi wanita dengan segala ketidak sempurnaan ternyata adalah hak ku. Ya, aku tidak akan bisa menjadi wanita seutuhnya. Aku tidak akan pernah bisa menjadi seorang ibu, saat ini, bahkan hingga aku mati.

Dua tahun yang lalu aku di vonis mandul oleh dokter kandunganku. Suatu hukuman paling berat bagi aku dan Mas Farhan. Anak yang menjadi impian setiap keluarga tidak akan pernah kami miliki. Anak yang selalu menjadi bayangan masa depan kami sebelum menikah. Pernikahan yang baru seumur jagung itu bergejolak tiba-tiba. Tiap hari hanya pertengkaran yang menghias rumah kecil kami.

Tapi semua sesak kala itu tak ada artinya dengan apa yang aku rasa saat ini. Aku bahkan tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya mampu, menatap langit kamar ku. Langit-langit yang pernah aku tatap bersama Mas Farhan, dulu.

”Nyonya, nyonya belum makan dari kemarin.” Kalimat itu sudah terdengar membosankan di telingaku. Bahkan seharian ini, Mbak Nah seakan enggan meninggalkanku di kamar sendirian. Entah apa yang ia bayangkan jika ia meninggalkan ku.

”Nyonya makan ya? Nanti Ibu marah sama saya, kalau Nyonya tidak makan sedikitpun. Saya sudah suruh Inah menghangatkan makanan buat Nyonya.”

Wanita setengah baya itu tak menyerah sedikitpun. Dia pikir, dengan membawa nama ibu mertuaku akan membuat aku luluh. Ibu mertua yang sudah ku anggap seperti ibu kandungku.

Bunda Ratih, begitu aku memanggilnya, menjadi ibu yang utuh buat ku. Bahkan di saat pertama aku diperkenalkan Mas Farhan padanya. Wanita Jawa yang lembut dan penyayang. Kehadiran Bunda dalam hidupku, seakan-akan mengisi kekosongan yang selama ini ditinggal kedua orang tuaku.

Terlahir yatim piatu, membuatku tumbuh tanpa kasih sayang orang tua. Dan dari ketulusan Bunda Ratih, aku bisa merasakan rasa menjadi seorang anak. Bunda Ratih adalah idaman bagi setiap menantu, karena itu aku menerima lamaran Mas Farhan tanpa berpikir dua kali.

Tak ada yang abadi, semua berubah. Begitupun dengan Bunda Ratih. Tak ada kehangatan lagi, sejak aku dan Mas Farhan menceritakan ketidaksempurnaanku. Hanya pembicaraan basa-basi dan tawa yang dipaksakan. Aku sangat memahami keresahannya, karena aku pun resah. Tak mampu memberikan keturunan bagi suami ku adalah hal yang memalukan sebagai seorang istri. Aku hanya mengharapkan Bunda selalu ada buat kami, berdiri disamping ku melewati semua.

Ternyata, mengharapkan pengertian Bunda adalah hal tersulit dalam dunia ini. Farhan Handoyo, putra tunggal almarhum Dwi Handoyo harus melahirkan penerus baru. Dan aku tak mampu untuk memberikan itu.

Tiba-tiba lampu dikamarku menyala, dengan reflek aku menutup mata karena silaunya. Aku menggerakkan tubuhku ke posisi duduk. Berharap cemas Mas Farhan lah yang berdiri di dekat pintu. Berharap semua kembali seperti pertama kali kami bertemu. Tanpa harus menjalankan keputusan itu.

Perlahan ku buka mataku.

Tak ada kata-kata yang bisa melukiskan perasaan ku saat ini. Sakit yang teramat sakit, pedih yang teramat pedih. Melihat Bunda Ratih yang berdiri membuat dada ku kian sesak. Air mata yang selama ini tertahan sudah tak terbendung. Ku rangkul tubuhku, menguatkan hati yang sudah hancur berkeping-keping.

Aku menangis, aku menangis, aku menangis.

”Wid!!” Bunda memeluk ku. Dari suaranya aku tahu ia pun menangis. ”Maafin bunda, Wid!!.. Maafin bunda!!” Hanya kalimat itu yang terdengar. Sisanya, ia menangis bersama ku, menangisi keinginannya sebagai seorang Ibu.

Ya. Mas Farhan telah menikah lagi hari ini. Menikah atas keinginan wanita yang ingin memeluk seorang cucu, atas keinginan seorang wanita yang telah menjadi ibu bagiku, atas keinginan wanita yang mengajarkan arti seorang anak padaku, atas keinginan wanita yang aku sayangi seperti ibuku sendiri.

Aku seorang wanita yang tidak akan bisa memiliki cahaya hati, dan aku mencoba memahami keinginan seorang wanita yang menaruh harapan besar pada cahaya hatinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s