Fero..!!!

Aku benci dengan Fero! Dia tega membohongi aku sekali lagi. Dan ini kesalahan yang paling fatal dan tak termaafkan bagiku. Dia dan Romy pergi ke hotel tanpa sepengetahuanku. Seharusnya aku yang harus ia ikut-sertakan dalam misi huntingnya itu.

“Sebel!!!!!” gumanku untuk kesekian kalinya.

“Lo kenapa sih, May? Dari tadi menggerutu nggak jelas.” Rena yang dari tadi duduk bersamaku di kantin, mulai berkomentar.

Aku menarik nafas panjang, tak menjawab pertanyaan sahabatku sejak SD itu.

“Mang dunia Lo sedang nyepi apa? Biasanya kalau Pak Aryo nggak masuk Lo yang paling seneng sebumi, cas cis cus kemana-mana. Atau? Lo kangen ya sama Pak Aryo?”

“Berisik!!” Ucap ku kesal.

Guru Matematika ku itu memang sering membuatku depresi. Berdasarkan survei di SMUN 1, bukan hanya aku yang merasakannya. Aku hanya salah satu korban kepintaran Pak Aryo. Tapi sekarang, aku sedang tidak ingin memikirkannya

Rena hanya tertawa melihat ekspresi wajahku. Dia pernah mengatakan hubungan persahabatan kami bertahan lama karena dia paling suka melihat wajahku kalau sedang kesal. Katanya lucu dan menggoda.

“Kalau gue lihat dari ekspresi Lo yang kayak nenek-nenek ditinggal di hutan.” Ia menjepit dagu dengan jari telunjuk dan ibu jari kanannya. “Lo pasti ketinggalan koleksi Siti yang terbaru, atau Lo berantem ma Fero lagi?” Rena mulai mengasah kemampuan detektifnya.

Bila aku cinta mati sama Siti Nurhaliza, Rena cinta hidup dengan Conan Edogawa. Katanya Conan seksi dan menggemaskan. Menggemaskan mungkin iya, tapi seksi, rasanya tidak. Sudah kecil, pakai kacamata, hidup lagi! Otak Rena memang aneh.

Kadang aku berpikir, aku berteman dengan psikopat yang siap menyeretku ke dunianya yang menyeramkan. Tapi sebenarnya, dia juga sama. Rena menganggap ku orang gila yang jatuh hati karena satu senyuman. Jika senyuman itu cuma untukku, wajar. Masalahnya Diva Malaysia itu tersenyum untuk semua penonton konsertnya. Tapi aku yang duduk disalah satu kursi VIP yang berbunga-bunga.

Aku ingat, petualangan ini dimulai saat Rena dihibakan sebuah undangan Siti Nurhaliza Indonesia Tour di Jakarta oleh Papanya beberapa tahun silam. Tadinya aku menolak ajakan Rena, karena aku sangat tidak menyukai musik-musik melayu, terlalu cengeng menurutku. Belum lagi kalau aku membayangkan tampilan mereka yang menurutku tidak kreatif. Tapi akhirnya aku setuju, itu juga setelah Rena merayuku selama tiga hari berturut-turut. Berhubung gratis, siapa yang bisa menolak.

Malam itu jadi momen paling luar biasa untukku. Aku yang agak kebarat-baratan seperti terhipnotis dengan suara merdu Siti. Lagu yang asing ditelinga mampu membuat ku terpana. Aku seperti melihat sosok dewi kayangan yang sedang turun ke bumi. Senyum itu melesat dari busurnya, menancap kehatiku seketika, membuat aku tergila-gila hingga saat ini.

Setelah malam itu, aku hidup sebagai pemburu. Segala macam koleksi Siti Nurhaliza ku kumpulkan. Entah itu kaset, CD hingga majalah-majalah yang menampilkan Siti sebagai covernya. Aku bahkan memesan beberapa koleksi langsung dari Malaysia.

Rena menyesal telah mengajakku ke konser itu, menurutnya aku berubah menjadi diriku yang lain. Folder LP di ipod ku kini berganti Folder Cindai. Poster-poster GP yang ada dikamar ku kini tertutup dengan poster-poster Siti, yang kuperoleh dari teman chatting-ku di Malaysia.

Meminati Siti Nurhaliza mempengaruhi banyak hal. Tanpa aku sadari aku masuk ke dunia yang berbeda dengan keseharian ku selama ini. Untuk memuaskan keinginanku, aku bahkan bergabung dengan salah satu komunitas ‘peminat’ Siti Nurhaliza di Jakarta. Komunitas itu bernama SAFA, dan disanalah aku mengenali seseorang yang bernama Fero, Muhammad Fernando.

“Maya!!!” Teriakan Rena mengembalikan ku ke dunia nyata. “Biasanya cerita kalo ada apa-apa.” Rena kini memberikan tatapan penasaran yang luar biasa. Dari tadi pagi aku memang tidak menggubris apapun yang ia tanyakan dan yang ia komentari.

“Gue sebel karena Siti, Na.” Akhirnya aku angkat bicara.

“Tuhkan! Tebakan gue bener. Pasti Lo belum dapet koleksi album Siti yang terbaru. Apa namanya? Cerita Cinta?”

“Gue lebih sebel sama Fero,” ucapku lirih.

“Bener lagikan! Pasti dia ngelanggar janjinya yang minggu lalu.” Rasa percaya diri menguasai Rena.

Aku kembali diam.

“Tapi, kok bisa Lo sebel karena Siti dan Fero bersamaan? Gempa donk!” Rena menertawakan sesuatu yang tidak ku mengerti.

“Anggap aja gempa disusul tsunami!” Lanjutku ketus. Rena menghentikan tawanya, lalu kembali memperhatikan aku.

“Kok bisa??”

“Ya bisalah!! Kemarin Siti tiba di Jakarta, Na. Informasinya memang nggak ada di web. Tapi, anak-anak SAFA nggak ngomong sama sekali ke gue. Ya BT-lah gue denger tuh berita dari Kak Norli. Kalau gue nggak chatting semalam, mungkin gue nggak bakalan tahu Na. Lebih pahitnya lagi, Fero sama Romy ke Sultan, ketemu Siti, dan nggak bilang-bilang ke gue.”

“Masa sih?!” Rena sepertinya tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. “Kak Norli, nggak mungkin bohongkan?” tanyanya hati-hati.

Sepertinya tidak mungkin seorang Fero yang selama ini setia menemani aku ‘berburu’, meninggalkan aku untuk momen yang paling berharga. Berburu ‘mangsa’ sampai ke tempat peristirahatannya.

“Ya nggak mungkinlah, Na. Buat apa dia ngebohongin gue. Nggak ada untungnya kali.”

“Terus, dia ngomong apa aja?”

“Dari ceritanya Kak Norli, mereka makan malam bareng Na.” Aku sudah tidak bisa menahan rasa kesalku. Satu kesempatan yang paling aku cari hilang. Air mata yang bersarang dikelopak kini mulai mengalir perlahan. Rena lalu memelukku, mencoba memberiku kekuatan melawan perasaan yang menyedihkan ini.

Mungkin orang lain menganggap ini sepele, tapi buat ku tidak. Kami yang berganbung di SAFA pernah berjanji akan selalu bersama jika itu menyangkut tentang Siti. Terlebih Fero, dia selalu berkata memiliki kekasih yang memiliki hobby yang sama sangat menyenangkan. Karena itu, dia akhirnya memilihku.

Ya, Fero adalah pacarku, kami ‘jadian’ empat bulan yang lalu. Ia menyatakan perasaannya padaku saat gathering SAFA yang ke-3 berlangsung. Sejak awal, aku memang bersimpati padanya. Sikapnya yang selalu mendahulukan wanita membuatku menaruh hati padanya. Apa lagi ketika SAFA ke ulang tahun TV swasta yang menghadirkan Siti sebagai bintang tamu. Dia tidak membiarkan seorang wanita pulang sendirian. Dia bahkan rela mengantar Mbak Siti, salah satu anggota SAFA, sampai Tanggerang.

Tapi sekarang, dia bermain dibelakang ku. Rasanya sakit mengetahui semua, seperti penghianatan yang direncanakan dengan sempurna. Dia bahkan berbohong saat itu. Katanya dia pergi ke rumah sakit, menjenguk teman satu kampusnya. Nyatanya, dia bersenang-senang bersama Romy di Hotel Sultan tanpa diriku. Memikirkan itu semakin membuatku ingin menangis.

“Kan gue dah bilang, pacaran sama anak kuliahan itu, resikonya besar May.” Rena mencoba memberi masukan yang menurutku sangat tidak kompeten dengan masalah yang sedang menggrogoti perasaanku.

Aku tak bereaksi. Aku hanya membiarkan Rena memelukku, walau aku tahu sebagian penghuni kantin menatap kami dari tadi.

“Terus, rencana Lo apaan?” Rena melepaskan pelukannya, sepertinya ia baru sadar tatapan aneh yang menuju ke arahnya.

“Gue nggak tahu, Na.” Aku menghela nafas panjang. “Yang jelas sekarang gue ngerti, mengapa sikap Fero berubah akhir-akhir ini. Kalau anak SAFA yang lain, gue bisa cuekin, tapi Fero?”

Hening tercipta sesaat diantara kami.

“Bagaimana kalau kita jebak Fero?”

“Maksud Lo?” Aku belum bisa menangkap arah pembicaraan Rena.

“Kita cari informasi apapun yang bisa menangkap basah, Fero. Jadi dia nggak bisa berkutik ketika Lo meminta penjelasan darinya!” Sepertinya Conan-Edogawa-Wanna-Be masih ada di kepala Rena, menciptakan ide yang tak terpikirkan oleh ku dari semalam.

***

“Kok Kamu kelihatan aneh banget hari ini, May?” Fero akhirnya mengawali pembicaraan diantara kami. Aku tak mengucapkan sepatah katapun sejak Honda Jazz-nya membawa kami jauh dari sekolah ku. Hari ini, hari pertamaku bertemu Fero setelah mendapat informasi dari Kak Norli, teman chatting-ku dari Malaysia.

“Masa, sih?“ jawabku ketus. Aku menunggu reaksinya, mencari celah untuk membuatnya mengaku. Tapi dia bersikap apa adanya, seolah-olah semua baik-baik saja. Aku semakin ingin marah.

“Tapi kok dari tadi diem?”

“Lagi nggak mood ngomong aja.”

“Kamu nggak lagi marah, sama aku kan?” Aku menangkap nada penyelidikan di dalam pertanyaannya.

“Nggaklah.” Aku membuang muka ke arah jalanan, menutupi kekesalanku. Aku tidak ingin Fero tahu, aku mengetahui rahasianya. Aku tidak ingin rencana yang ku susun bersama Rena gagal. Aku harus bisa membuatnya merasa bersalah.

“Kamu udah tahu Siti lagi di Jakarta?” Aku balik bertanya, langsung pada titik sasaran, masalah yang membuatku marah.

“Oh ya? Aku belum tahu. Acara apaan? Kok baru ngasih tahu sekarang?” Aku rasanya ingin menonjok muka cakep itu. Ekspresi ‘tidak tahu’nya benar-benar membuatku mual. Ya Tuhan, mengapa aku bisa pacaran dengan orang yang menyebalkan seperti ini.

Tenang Maya, ingat kata-kata Rena. Tiba-tiba sisi baikku mengingatkan akan rencana besar yang telah tersusun. Aku mencoba menarik nafas panjang, satu, dua… tiga. Setidaknya aku lega, sedikit.

“Katanya sih, buat video klip dan beberapa keperluan lain. Aku juga nggak tahu persis, karena aku belum nanya ke mami atau yang lainnya.” Ujarku kemudian.

“Nanti, aku tanya Romy dech. Kalau ada berita lain, aku kabarin.”

“Yang cepet yach! Aku kangen nih sama Siti. Terakhir ketemukan enam bulan lalu.” Aku mencoba bersikap manja, seperti biasa. Menutupi sisi Linkin Park yang beberapa hari ini kembali tumbuh di jiwaku.

“Ya iyalah May, apa sih yang nggak buat Kamu.” Senyum khas kembali menghias bibirnya, ia lalu memegang kepalaku. Aku tahu dia masih sayang padaku tapi aku nggak bisa menerima keegoisannya kali ini.

Tiba-tiba handphone Fero yang di silent bergetar. Setelah melihat nomor yang tertera di LCD, dia menepikan mobilnya.

“Bentar yach.” Dia keluar dari mobilnya, tanpa mengomentari ekspresi keingintahuanku.

Ini adalah kali pertama Fero menerima telepon dengan menepikan mobilnya terlebih dahulu. Biasanya dia akan menjawab setiap panggilan di depanku. Bahkan tak jarang aku yang menerimanya.

“Siapa, Fer?” tanyaku setelah ia kembali ke kursi kemudinya.

“Romy. Dia ngajak aku ketemu dengan kakaknya yang kerja di Trans.”

“Ouw?” Jika Fero tidak berkonsentrasi pada starter mobilnya, maka dia akan melihat ekspresiku yang siap menjalankan sebuah rencana.

“Rencananya sih besok malam. Besok malam kita nggak ada rencanakan?” Mobil kini kembali melaju.

“Besok malam? Sepertinya enggak.” Kita memang tidak punya rencana, Fero. Tapi aku dan Rena, kamu lihat saja nanti.

***

Rena sedang berkonsentrasi pada mobil Jazz yang berjalan tak jauh di depan kami. Mobil yang Rena pinjam dari kakaknya hanya dipisahkan dua buah mobil dibelakang mobil Fero. Sejak sore, kami menguntit mobil Fero dari rumahnya. Memastikan kami tidak akan kehilangan momen yang kami cari. Apalagi aku tahu persis Fero akan bertemu Romy.

Kemarin, setelah sampai di rumah, aku langsung mengabari Rena tentang rencana Fero hari ini. Sang detektif, Rena Edogawa, sangat antusias untuk memulai penyelidikannya. Kucing-kucingan ala mata-mata Rusia pun kami tempuhi untuk mendapatkan keadilan yang seharusnya aku miliki.

“May, lihat! Fero belok ke arah Sultan!” Teriak Rena.

“Pasti, mereka janjian ma Siti lagi,” aku hanya bisa lirih.

“Tenang, May. Kita pasti berhasil menjalankan rencana kita.” Perlahan tapi aman, Rena terus membuntuti Fero.

Rena memarkir mobil tak jauh dari tempat Fero memarkir mobilnya, membuat kami memiliki waktu yang cukup untuk mengikuti Fero.

Di lobby, Fero menemui Romy yang sepertinya sudah menanti kedatangannya dari tadi. Mereka lalu masuk ke lift tengah, naik ke salah satu lantai dimana Siti berada. Karena kami tidak bisa masuk lift yang sama, Rena menganjurkan kami menunggu dimana lift itu berhenti. Ternyata mereka berhenti di lantai 14. Aku dan Rena lalu menekan tombol yang sama.

“Bagaimana cara kita tahu, mereka ada di kamar berapa?” tanyaku kemudian, setelah lift bergerak.

“Logikanya, mereka nggak akan langsung masuk May. Pasti ngetok-ngetok. dulu, ngelobi dulu, macem-macem dech.” Ternyata ada gunanya juga punya sahabat ‘detektif’ seperti Rena, pikirku.

Tak lama kemudian pintu lift terbuka di lantai 14. Aku mempersilahkan Rena keluar terlebih dahulu, sembari memeriksa keadaan lapangan. Aku takut saat keluar, Fero dan Romy masih berdiri tak jauh dari lift.

“Aman!” Ia melingkarkan jemarinya kearahku.

Aku melangkah keluar dengan perlahan. Situasi terlihat aman seperti yang Rena katakan. Tapi dimana mereka?

“Itu mereka,” bisik Rena. Sepertinya dia bisa membaca pikiranku.

Aku melihat Fero dan Romy sedang menunggu seseorang membukakan pintu. Tak berapa lama kemudian, pintu terbuka. Dimas, bodyguard All Access yang selalu setia menemani Siti di Jakarta itu, berdiri diambang pintu. Fero dan Romi kemudian masuk kedalam kamar 1410.

“Na, mereka memang ketemu Siti.di sini.” Rasa sesak kembali hadir, seiring hancurnya rasa penasaranku. “Dimas nggak mungkin ada di sini kalau Siti nggak ada.” Aku hanya bisa menundukkan kepala. “Fero…, dia udah nggak sayang gue lagi.” Aku bisa merasakan mataku yang berkaca-kaca, menunggu perintah untuk menjatuhkan bulir-bulirnya ke pipiku.

“Maya, kita belum finish! Kita harus menyelesaikan misi kita. Menangkap basah Fero dengan kebohongannya!” Rena memang selalu jadi penyemangat sejati bagiku. Tapi aku tidak bisa menggerakkan kedua kakiku. Aku mematung dengan kesedihanku.

“Sini!!!” Rena menarikku ke depan pintu kamar 1410.

“Tapi, Na!?” Aku tiba-tiba ragu.

“Lo pasti bisa!!!” Dan Rena mengetuk pintu ajaib itu.

Jantungku rasanya mau berhenti saat Dimas membuka pintu kamar. Badannya yang kekar dengan pakaian yang serba hitam, membuat dirinya terlihat lebih garang.

“Ada apa?” Satu pertanyaan itu cukup membuatku hilang kendali, lupa akan misi yang aku beban. Tapi aku bisa merasakan Rena mundur di belakangku, menyenggol pundakku, sebagai kode untuk menjawab pertanyaan itu.

“Hai, Bang Dimas.” Hanya itu yang keluar dari bibirku.

“Saya tanya, ada apa?” Suaranya terdengar lebih keras.

“Saya…,” walau aku mengenal Bang Dimas, dia sepertinya tidak senang akan kedatanganku. Ekspresinya sangat berbeda ketika dia menyambut Fero dan Romy.

Dia menatapku datar.

“Saya mencari Fero dan Romy, Bang.” Aku meneruskan kata-kataku.

“Di sini nggak ada yang kamu cari!” Kalimat ketusnya membuatku kesal. Jelas-jelas di depan mataku dia menyambut mereka, sekarang Dimas mengatakan tidak tahu.

“Bang Dimas jangan bohong ya!” Rena ikut protes.

“Buat apa saya bohong dengan kalian!”

“Kami melihat mereka masuk ke kamar ini!” Tambah Rena.

Saat ini aku berusaha menahan emosiku, berusaha mengendalikan diri dari konspirasi yang merugikan aku.

“Kalian salah lihat.” Jelasnya datar. “Mungkin hanya bellboy yang ingin merapikan kamar.” Dia menambah kebohongannya.

“BANG DIMAS TIDAK ADIL!!!” Tiba-tiba aku mendorong tubuhnya, memaksa masuk ke kamar itu. Emosiku terlalu sulit ku kendalikan. Diperlakukan seperti ini membuat ku kesal.

Tubuh kekar itu terdorong, memberi celah untuk ku masuk. Ternyata aku kuat juga, mampu menggeser tubuh bodyguard berkelas seperti Dimas.

Aku tidak melihat Siti ataupun tanda-tanda kehadirannya. Secepat itu Siti bisa bersembunyi, pikir ku. Kehadiran ku di kamar itu menghentikan tawa Fero, Romy dan seseorang yang mengenakan baju All Access. Mereka terlihat kaget akan keberadaan ku yang tiba-tiba.

“Maya?” Ujar Fero dan Romy hampir bersamaan. Fero lalu berdiri.

“Kamu tega ya, Fer. Katanya kamu ada janji dengan kakaknya anak satu ini. Nyatanya, kamu disini!!”

“Ini nggak seperti yang kamu duga, May.” Romy memberi penjelasan.

“Memang apa yang gue duga? Lo nggak usah ikut campur dech!” Romy tidak jadi melanjutkan kalimatnya.

“May, please. Jangan disini, sebaiknya kami jelasin semua diluar. Ini kamar orang. Nggak enak ngeganggu mereka.” Fero menghampiriku, seakan-akan aku akan berbuat onar di ruangan berkelas ini.

“Aku sempet berpikir Kak Norli bohong sama aku. Tapi dia…,dia benar, Fer! AKU NGGAK NYANGKA KAMU BISA SETEGA INI!!” Amarah itu sudah sampai diubun-ubun.

“May, dengarkan penjelasanku terlebih dahulu.” Fero memohon, tapi aku tidak ingin mendengarkannya ini.

“KITA PUT…,” sebuah koor menarik perhatianku, mencegahku untuk meneruskan kalimat vonis untuk Fero.

Happy Birthday to You, Happy Birthday to You. Happy Birthday, Happy Birthday. Happy Birthday Maya!!” Suara tepukan bergemuruh di ruangan itu. Wajah-wajah yang ku kenal tertawa keras. Ada Mami, Mbak Endar, Kak Ami, Dian, Kak Re, Mas Rachmat, bahkan Kang Syarif, ketua SAFA, memenuhi kamar. Rena yang tak ku sadari entah dimana saat aku memaksa masuk, kini memegang sebuah kue tart dengan angka 17 diatasnya.

“Apa-apaan ini?!” Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi, semua orang ini dan kue ulang tahun itu. “Siapa yang sedang berulang tahun?”

Tunggu! Hari ini tanggal berapa? 19 Oktober… Ya Allah! Aku lupa, aku berulang tahun hari ini. Aku mencoba menarik benang merah setiap kejadian, dari chatting dengan Kak Norli hingga rencana Rena yang terlalu memaksakan. Sesaat kemudian aku mulai menyadari persekongkolan yang terjadi belakangku.

“Sorry nih, kita kepaksa pakai nama Siti. Usulan cowok Lo tuh,” ujar salah satu senior ku di SAFA. Mereka tertawa menang, sementara aku hanya bisa memasang muka kesal, tapi bahagia.

“Happy Birthday, Sayang.” Fero membisikkannya ke telingaku. “Gimana kejutannya? Suka?” Aku mengacuhkannya, dia malah tertawa lebih keras. Sepertinya rencananya berjalan mulus. Menggunakan nama Siti Nurhaliza untuk mengecohku, dan dia berhasil.

“Masih niat putus?” ekspresinya menggoda ku.

“Pengen?!!”

“Tunggu gathering SAFA kali, ya.” Aku ikut tertawa mendengarnya. Tawaku semakin lepas setelah membayangkan kebodohanku yang terpancing umpan mereka. Menghasilkan tangkapan yang luar biasa, pesta kejutan yang penuh tanda tanya.

Tak lama kemudian, satu persatu keluarga SAFA-ku mengucapkan selamat ulang tahun. Terakhir, Bang Dimas yang menghampiriku.

“Maaf ya, May. Bang Dimas ikut ambil bagian dalam skenario ini. Nggak bisa nolak setelah tahu bayarannya.” Aku tertawa mendengarnya. “Kata Fero, kehadiran All Access dibutuhkan untuk menguatkan keberadaan Siti.” Jelasnya. “Bagaimana aktingnya, OK nggak?” tanyanya kemudian.

“Minimal dapet Piala Citra, Bang! Headline di tabloid seperti ini, From Bodyguard to Body-art,” tukasku. Ruangan itu kembali dipenuhi tawa.

“Tinggal gue May,” suara Rena mengalihkan perhatianku. Peran detektif ini paling besar, memprovokasi aku untuk lebih emosi.

“Apa?!”

“Gue… mau bilang,” dia mengantung kalimatnya. “HAPPY BIRTHDAY!!” Kue tart yang ada ditangannya kini berada di wajahku, menutup pandanganku.

“RENA!!” aku langsung mengejar Rena, berharap bisa membalasnya. Kue tart yang tak berbentuk itu, siap melayang ke wajahnya. Tapi sayang, Rena menghindar, dan lemparan ku mengenai Romy yang sedang tertawa. Alhasil kini aku yang dikejar-kejar Romy.

“Ha..ha..ha…!” Aku tertawa lepas dengan wajah berlapis cream coklat..

Hari ini aku bahagia. Aku bahagia karena semua ternyata hanya sandiwara. Aku bahagia karena Fero tidak pernah menghianatiku. Aku bahagia karena mereka menyayangiku. Aku bahagia karena hari ini hari ulang tahunku.

Sweet seventeen, Maya. Ujarku dalam hati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s