Cerpen : Cantik

You are beautiful no matter what they say
Words won’t bring you down
You are beautiful in every single way
Yes, words won’t bring you down
Don’t you bring me down today…
(Christina Aguilera – Beautiful)

***

To : randy@ciptamedia.com
From: duniajemari@yahoo.com
Hal : Draft terakhir

Mas Ran, ini aku kirim draft terakhir Pelangi Hitam, mohon bantuannya yah. Makasih.

Regards
Maharani

Lalu ku arahkan kursor pada kotak send, dan sedetik kemudian surel itu pun terkirim.

“Alhamdulillah, kini tinggal menunggu kabar dari editorku.” aku menarik nafas panjang. Lega rasanya saat bisa mewujudkan imajinasiku dalam sebuah tulisan, lagi dan lagi. Saat sebuah ide lahir, tak berarti dia akan tumbuh dengan baik. Aku harus mati-matian menjaganya tetap konsisten dan bertahan hingga akhir cerita yang mungkin akan anti klimaks. Dan aku sangat menikmati setiap detail proses itu.
Hening.

Tak terasa, sudah bertahun-tahun aku melewati hari beratku dengan menulis. Dan hari ini, aku berhasil menyelesaikan buku ke tiga ku. Tidak mudah saat memulai semua ini, bagaimana meyakinkan banyak orang, bahwa aku bisa menjadi seperti apa yang aku impikan. Semua keterbatasan itu bukan penghalang untukku menjadi penulis. Pada akhirnya, aku bisa membuktikannya.

‘You’ve got mail!’ Satu notifikasi muncul. Ada email baru yang masuk ke dalam outlook ku. Ku arahkan kembali tubuhku pada kubikel.

To : duniajemari@yahoo.com
From: rara.aditya@ciptamedia.com
Hal :  Promo Bulan ini

Mba ku, ini aku kirim jadwal promo bulan ini, as attachment.
Di mark on your schedule yah.
Bulan ini akan sedikit capek, so stamina nya dijaga ;).
Seperti biasa, adikmu yang cantik ini yang akan antar jemput, sana sini.
Be ready to rock the world bebehhh!!!

Rara Adit

Aku tertawa membacanya. Rara adalah promotion executive Cipta Media, penerbit yang menerbitkan dua buku ku sebelumnya. Sudah tiga tahun ini Rara setia mendampingi aku disetiap acara promosi. Kedekatan kami sudah lebih dari rekan kerja. Mungkin karena dia sangat bisa memahami aku, makanya aku sangat nyaman bekerja dengannya.

Well, biasanya, Rara akan segera meng-update kegiatan promosi melalui twitter atau facebook. Baiklah, saatnya ikut serta meramaikan dunia maya bersama Rara.

Ku aktifkan koneksi internetku, lalu ku buka aplikasi tweetdeck. Dan sejumlah twit pun memenuhi bar mentionku. Kubaca satu demi satu, dan berharap tak ada yang terlewat. Setiap twit itu menyampaikan harapan padaku. Entah itu suka maupun tidak duka.

Diantara ratusan kicauan itu, ada satu nama yang mengganggu pikiranku akhir-akhir ini. Wajah Mentari, begitu ia menamai dirinya. Setiap Rara mengupdate tentang aktifitas promosiku, dia selalu meretweet dengan kalimat yang sama. Seperti hari ini.

WajahMentari
Aku ingin ketemu Kakak! RT @rara_adit : Tunggu kedatangan @duniajemari di acara Bedah Buku ‘Cantik’, Gramedia Depok sabtu ini!

Aku membalasnya.
duniajemari
@WajahMentari @rara_adit Yang di Depok datang yuks, nanti kita bisa ketemu.

WajahMentari
@duniajemari Aku ingin ketemu Kakak! Tapi aku tidak bisa ke tempat-tempat itu.
Dan setelah itu dia tidak merespon apapun. Selalu seperti itu.

***

“DONE!!” Teriak Rara setelah sampai mobil. Ada nada lega disuara lantang itu. Promo bulan ini ditutup dengan mengisi salah satu acara Bazar Buku di Istora Senayan. Aku pun lega sekaligus bahagia. Bertemu orang-orang baru yang menginspirasi aku untuk berbuat lebih. Tapi, aku masih tak berhenti memikirkan dia.

”Ra?” panggilku.

Rara yang sedang berkonsentrasi pada layar gadget-nya mengalihkan pandangannya kepadaku.

”Ada apa Mba?”

”Kamu udah hubungi Wajah Mentari?”

”Oh iya Mba, sampai aku lupa share ke Mba. Aku udah DM dia, tapi dia bilang nggak bisa datang ke event tadi.”

”Oh gituh yah?” aku kecewa.

”Mba sepertinya penasaran sekali sama dia?” aku diam, lalu mengangguk perlahan.

”Entah lah Ra..,” aku menarik nafas panjang. ”Seperti ada sesuatu yang ingin dia curahkan. Tapi dia tidak bisa. Aku pernah coba DM dia. Jawabannya sama. Sepertinya dia menghindari tempat umum.” jelasku lagi.

”Baiklah.. gimana kalau kita aja yang samperin dia?” ide Rara.

”Kamu yang anterin yah? Yah? Yah?” pintaku, sedikit manja.

”Hahahaha. Itu tugas ku Mba e’! I’ll be there four youAlways!” ucapnya sambil merangkul tubuhku.

“Thanks Ra.”

 ***

 Mobil avanza yang kami tumpangi melaju, menuju Bogor, membawa aku dan Rara. Akhirnya Rara berhasil medapatkan alamat Tari, si Wajah Mentari. Meski butuh waktu, akhirnya Rara berhasil meyakinkan Tari untuk bertemu. Tari hanya bersedia bertemu di rumahnya. Tanpa ragu, aku mengiyakan temu janji yang diatur Rara untukku dan Tari.

“Aku belum pernah melihat Mba, seantusias seperti ini.”

”Entahlah Ra. Seperti yang aku bilang. Ada sesuatu, dan sesuatu itu terhubung denganku.”

Kami berhenti di sebuah rumah, tak terlalu mewah, tapi aku bisa melihat pemilik rumah ini dari keluarga berkecukupan. Ada mobil Kijang Krista terparkir di luar, satu sepeda motor masih terkunci dalam garasi. Aku memilih tetap di mobil, membiarkan Rara yang memeriksa apakah rumah ini adalah rumah Tari.

Seorang wanita keluar, dari garis wajahnya aku menebak dia adalah nyonya rumah ini. Ada raut wajah bahagia, saat Rara menjelaskan sesuatu padanya.

“Mba, bener ini rumah Tari. Yuk masuk!” Rara lalu membukakan pintu mobil untukku. Aku dan Rara mengikuti jejak sang ibu ke dalam rumahnya.

Aku pikir kami akan menunggu di ruang tamu, namun wanita itu mengarahkan kami menuju sebuah kamar dekat dapur. Aku dan Rara, mengikutinya dalam diam.

”Tari,” wanita itu mengetuk pintu kamar. ”Buka pintunya nak, ada tamu buat kamu!”

”BERAPA KALI TARI BILANG!! TARI NGAK MAU TERIMA TAMU!!” teriak suara dari dalam disusul sesuatu yang pecah. Aku dan Rara dibuat kaget karenanya.

”Maafkan anak saya yah Mba.” wanita ini sepertinya sudah terbiasa dengan suasana seperti ini.

Rara mendekati pintu, lalu mengetuknya.

”Wajah Mentari? Aku Rara.. Rara Adit? Masih ingat? Aku ke sini bareng Mba Maharani.”

Hening tiba-tiba diujung sana. Aku, Rara dan ibu Mentari pun ikut hening, berharap segera pintu itu dibuka.

Krek. Suara kunci bergeser. Ganggang pintu bergerak tak lama kemudian pintu terbuka. Namun sang pemilik kamar bergegas kembali ke tempat tidurnya, memilih duduk dipinggir kasur, mengenakan selendang batik dan membelakangi kami.

Aku dengan rasa penasaran yang luar biasa memasuki kamar mungil itu. Nuansa gelap terasa dominan pada pilihan furniturenya, beberapa sketsa karakter yang tak ku kenal menempel di dinding. Sketsa yang memperlihatkan dunia underground. Kamar ini benar-benar hitam, setidaknya dipaksakan ‘hitam’, menurutku.

“Tari?” panggilku, perlahan ku langkahkan kakiku menghampirinya.

Tak ada suara. Dia terlihat merapikan selendangnya, menutupi wajahnya.

Kurasakan Rara dan ibunya menyusul jejakku.

“Tari, bukannya Kamu ingin ketemu aku?” tanyaku setelah duduk persis di sampingnya. Ia malah mengalihkan pandangannya, menghindari tatapan ku. Tatapanku ke wajahnya. Sesaat, aku sadar, ada yang coba ia sembunyikan dari wajahnya.

“Tuh kan, aku berhasil menyeret Mba Rani untuk ketemu Kamu, Tari.” Rara mencoba mencairkan suasana tegang yang ada di ruangan ini. So what’s next? Foto-fo..”

“Mba.. jangan…” suara ibu Tari memotong kalimat Rara. Pelan, singkat namun sangat jelas. Rara tidak boleh meneruskan kalimatnya. Aku dan Rara saling pandang, kebingungan, lalu sadar tak ada satupun foto Tari di ruangan ini.

Tari masih bergeming, diam yang memberikan seribu tanya keingin tahuan di hatiku, dan Rara juga, pikirku.

Hening.

“Tari, kamu jangan diam seperti itu, Nak.” sang ibu lalu menghampiri anaknya. “Mba Rara dan Mba Rani udah jauh-jauh datang kemari untuk ketemu Kamu.” ia duduk bersimpuh di depan putrinya.

Tari masih membisu.

“Jangan seperti ini terus, Nak. Ibu mohon.” Mata wanita itu berkaca-kaca.

Tak lama kemudian, terdengar isak tangis dari balik selendang itu. Aku dan Rara tidak tahu harus berbuat apa. Apa kah kami datang di waktu yang salah?

“Terima kasih Mba, Terima kasih sudah datang.” lembut, kalimat itu keluar dari bibir Tari, kulihat senyum tipis di wajah ibunya. “Aku masih nggak percaya, waktu baca DM dari Mba Rara, kalau..” Tari mencoba mengontrol isaknya, “kalau Mba Rani, bersedia ketemu aku di rumah.”

“Dan taraaaa.. kami sudah di sini Tari,” potong Rara.

“Dan kami di sini untuk Kamu,” sambungku.

“Ya ampun, sampai lupa,” tiba-tiba sang ibu menyadari sesuatu. “Ada tamu kok ndak nyedian air minum. Sebentar yah Mba Rara, Mba Rani, saya ke dapur dulu.”

“Nggak usah repot-repot, Bu,” ujarku.

“Nggak. Nggak repot kok. Tunggu sebentar yah.” Wanita itu lalu bergegas ke dapur meninggalkan kami, masih dalam kekakuan yang sama.

Aku mematung, dan Rara pun sama. Kami menunggu Tari membuka suara lebih, membuka diri lebih dari sebalik selendang batik yang ia kenakan. Pertanya-pertanyaan di kepala tak berani ku layangkan, aku menunggu Tari yang memulai. Setidaknya, hal itu akan membuat Tari merasa lebih baik.

“Aku ingin ketemu Mba Maharani, karena aku ingin seperti Mba.”

“Kamu suka menulis? Kamu ingin jadi penulis?” dua pertanyaan muncul dikepalaku.

“Tidak. Aku tidak suka menulis, aku suka menggambar.”

“Oh, jadi semua sketsa ini, Kamu yang buat?” tanya Rara. Sebuah anggukan menjawab pertanyaan itu.

“Aku ingin seperti Mba Rani, berani melihat dunia, berani menghadapi dunia.” Ada nada sedih dari kalimat itu. Bagiku terdengar seperti sebuah kekosongan yang begitu hampa. Karena itulah yang kurasakan dulu. Dahulu kala sebelum aku memutuskan terjun ke dunia penulisan.

Aku merapatkan posisi dudukku. Rara lalu ikut duduk di sampingku.

“Kamu bisa menghadapi semua, sepanjang Kamu berpikir, Kamu ‘bisa’,” setidaknya itulah langkah pertama yang aku pilih, dulu.

“Meski dengan wajah seperti ini? Dengan tubuh seperti ini?” Tari membuka selendangnya. Sedetik kemudian aku kaget, begitupun yang kulihat pada raut muka Rara. Akhirnya aku menemukan akar dari semua ini, luka bakar yang tersisa di wajah Tari.

Seperti lelehan plastik yang kering setelah terbakar, seperti itu yang dapat kulihat di wajahnya. Bibirnya terlihat normal namun kelopak mata kanannya terlihat sulit ia gerakkan. Area kepala yang ditumbuhi rambutpun terlihat hitam, beberapa helai rambut tumbuh berantakan.

“Bahkan seorang Maharani kaget melihat diriku.” Tari tertawa sinis.

“Kami manusia Tari. Kami akan merespon sesuatu yang baru pertama kali kami lihat.” Rara menanggapi.

“Kalau jijik bilang saja. Aku sudah biasa kok melihat ekspresi itu.”

“Tari…,” aku mendekatinya, duduk disampingnya. “Kami ngak pernah bermaksud seperti itu. Ngak pernah. Kamu tahu itukan?”

Ia mengangguk.

Hening, dan keheningan kali ini terasa lebih menyayat.

“Aku harus bagaimana Mba? Aku harus bagaimana?” Tari terisak, sesak yang ia simpan itu kembali tak tertahan.

Rasanya ingin memeluk tubuh ringkih itu.

“Lakukan apa yang kamu mau, apa yang kamu bisa.” Tari masih terisak. “Pasti akan banyak pro kontra, tapi selama kamu berpikir bisa, semua akan bisa kamu lewati, Tar. Allah akan mengirim orang-orang yang terbaik untuk menemani kamu melewati masa-masa sulit ini. Pasti.” Aku memandang Rara, dia adalah malaikat pelindungku, yang selalu menyakinkan aku untuk berjuang menghadapi ketakutanku. “Butuh waktu untuk ku kembali memiliki semangat hidup sejak kecelakaan yang aku alami, melatih kaki ini untuk menjadi tangan di saat aku membutuhkan.” Flash back masa-masa itu kembali terlintas dikepalaku. “Dan kaki ini pula yang membantu aku mewujudkan impianku yang sempat hilang, menjadi seorang penulis. Kaki yang sama membawa aku ke sini, menemuimu.” Tari sudah kembali bisa menguasai dirinya.

’Kamu harus berpikir bisa, maka kamu akan bisa.’ Itu yang aku pelajari dari seorang Mba Rani, Tari.” Rara ikut menyemangati. Ia mengusap air mata yang membasahi pipi Tari. “Cantik itu di sini,” Rara meletakkan tangan kanannya di dada. “Apapun pendapat mereka, yang terpenting adalah pendapat Kamu. Benerkan Mba Ran?”

Aku mengangguk, setuju.

“Hey, bagaimana kalau kita buat project cerpen berilustrasi Mba? Cerpen Mba kan banyak tuh? Nanti biar Tari yang mengisi ilustrasinya.”

“Ide yang bagus Ra.”

“Nanti biar aku yang mengajukan usulan ke Mas Randy.”

“Serius Mba Rara?” Ada nada antusias yang aku dengar. “Kalian mau pakai ilustrasiku?”

“Kamu harus bisa menunjukkan ke Mas Randy kualitas ilustrasi Kamu,” tantang Rara.

“Insyaallah. Kamu pasti bisa, Tar.” sambungku.

“Terima kasih Mba, terima kasih.” Tari memelukku. Ah seandainya bisa aku balas pelukan itu.

Seperti memahami pikiranku, Rara memeluk aku dan Tari, erat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s