Sebuah Rindu

Dua bulan lalu.. awal Februari yang senggang.. Akhirnya aku mendapat sambungan langsung internasional di handphone ku, sebuah panggilan yang akhirnya datang terlalu awal. Telepon itu mengabarkan berita bahwa mulai bulan depan aku tidak bisa bekerja bersama mereka lagi.

Untuk sesaat aku sedih, aku bahkan sempat menitikkan air mata, namun detik berikutnya aku menerima dengan tegar (setidaknya berusaha tegar). Jodoh ku dengan mereka cuma sampai di sini.

Alhamdulillah, tak menunggu waktu lama, sebuah kesempatan datang padaku. Kembali bekerja dan melepas label pengangguran dengan cepat. Lingkungan kerja nya cukup baik, meski baru sehari aku bisa merasakan lebih banyak energi positif di sekitarku. Namun satu hal mengganggu pikiranku. Aku rindu.. aku merindukan pekerjaanku yang dulu.

Kenangan demi kenangan muncul dalam kepalaku. Aku rindu mendapat sms pesanan makanan. Aku rindu memesan delivery sushi groove. Aku rindu membawa barang belanjaan. Aku rindu 1430D. Aku rindu dipecat setiap hari. Aku rindu semua yang aku kerjakan setahun terakhir. Aku rindu bekerja tanpa peduli waktu maupun uang.  Aku rindu semua itu. Rindu.

Bahkan memikirkan nya pun membuatku ingin menangis, sesak memenuhi rongga dadaku, mataku tak bisa menahan air mata untuk jatuh ke pipiku. semua karena rindu.

Akankah rindu ini terobati? Kelak?

Advertisements

2 thoughts on “Sebuah Rindu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s