Peta Persahabatan (1)

ATLAS

Pesawat berhenti bergerak, tanda ia sudah terparkir di tempat yang seharusnya. Tanpa aba-aba, para penumpang berdiri dan mencoba mengambil barang-barang yang terletak di bagasi kabin. Beberapa detik kemudian suara-suara panggilan telepon terdengar. Seperti biasa, penumpang lebih banyak mengabaikan pengumuman terakhir awak pesawat untuk tidak menyalakan telepon genggam hingga tiba ke ruang tunggu. Pintu pesawat terbuka, lantas mereka bergegas untuk keluar terlebih dahulu. Mungkin mereka sedang mengejar waktu atau sedang terburu-buru bertemu yang dirindu, selalu seperti itu, pikirku. Hanya beberapa penumpang yang terlihat masih duduk santai, tak ingin ikut ambil bagian dalam hiruk pikuk itu. Menunggu sepi, selalu ada tipe penumpang seperti itu.

“Terima kasih, semoga selamat sampai tujuan.” Melihat wajah-wajah berbeda setiap hari menjadi bagian yang kusuka dari pekerjaan ini. Aku seperti melihat cerita disebalik raut muka para penumpang, kenangan yang baru saja mereka tinggalkan dan kisah yang akan mereka hadapi setelah kembali menginjakkan kaki di bumi. Perpisahan dan pertemuan, dua hal itu tak pernah terpisahkan.

“Pita, yuks.” Aku mengambil traveller bag lantas mengikuti langkah Naya keluar melalui garbarata. Tulisan Hang Nadim terpajang di sebelah kanan. Selamat datang ke Batam, Pita. Bisikku pada diri sendiri.

Ini penerbangan pertamaku ke Batam, maskapai tempat ku bernaung baru saja mebuka rute Surabaya-Batam. Aku cukup bersemangat mendapat schedule hari ini, karena konon katanya harga barang-barang elektronik di sini lebih murah dibanding kota lainnya di Indonesia. Tapi sayang, penerbangan selanjutnya jam 7 pagi, jadi aku tidak akan sempat membuktikan kebeneran cerita itu.

Sesampai di hotel tempat ku beristirahat, aku bergegas membuka traveller bagku. Sebuah atlas lusuh ku keluarkan dari kantong bagian depan. Aku membuka halaman peta Indonesia. Ku ambil pulpen dan kulingkari pulau Batam.

***

Kututup Atlas yang ada di depan ku, lalu kembali menghapal satu demi satu nama provinsi yang ada di Pulau Sumatera, membayangkan tata letak ibu kota masing-masing. Ku ambil buku tulis, lalu menggambar sebentuk pulau yang sama dengan Sumatera.

“Duh, berapa yah tadi?” Aku mencoba mengingat berapa jumlah provinsi yang ada. “Sumatera Utara, Sumatera Selatan, SUmatera Barat,” ini adalah urutan untuk ku mudah menghapalnya. “DI Aceh, Medan?” ragu aku. “Eh Medan ibu kota Sumatera Utara.” Aku mengembalikan jari kelingking dalam posisi lurus. “Aceh, Riau, Lampung, …”

“PITA!” Suara cempreng itu mengagetkan ku. “Lagi menghapal untuk ulangan Peta Buta besoky ah?” Aku mengangguk. “Sini aku bantu bagaimana cara belajar menghapal nya.” Nalia lalu duduk di samping ku, mengambil buku tulisku, lalu merobek lembar tengah nya. Ia membuka Atlas dan mencari halaman yang menunjukkan peta Indonesia. Ia mencontoh peta tersebut untuk membuat ulang peta Indonesia di kertas selembar tadi. Ia membuat menggaris bagian-bagian setiap pulau tersebut, menunjukkan wilayah provinsi yang ada.

“Kita disini,” ucapnya sambil menunjukkan ke bagian ujung atas Sulawesi, Manado. “Tentu saja aku tau,” ucapku. “Kalau ini?”, “Sulawesi Selatan, Ujung Pandang.”, sambungku, tanpa perlu berpikir panjang. “Ini?”, ia menunjuk ke bagian kecil atas kiri Pulau Jawa. “DKI Jakarta, ibu kota negara kita.” Ucapku mantap. Tangannya beralih ke pulau Sumatera bagian atas. “Itu DI Aceh!” lagi ku mantap menjawab. “Salah.” jawabnya. “Ini Sumatera Utara, liat bagian yang aku gambar ada seperti bulatan kecil di tengah. Ini Danau Toba, danau terbesar di Indonesia.” Aku terdiam mengakui kesalahan.

“Kalau ini?”, aku mencoba mengingat provinsi apa yang terletak di bagian kanan pulau Jawa. “Ini Jawa Timur, ibu kotanya Surabaya. Sate Madura berasal dari tempat ini. Kalau ini Kalimatan Selatan, tempat Om Charles sedang bertugas. Ini Sumatera Selatan, Mpek-Mpek Palembangnya enak sekali. Ini Bali, aku punya mimpi ingin tinggal di Bali, belajar bahasa inggris dengan bule-bule Bali.” Aku ternganga, ingatan Nalia yang luar biasa. “Setiap provinsi pasti ada hal khususnya, Pita. Dan aku ingin sekali keliling Indonesia, mengunjungi tempat-tempat indahnya. Candi borobudur, Pantai Kuta, Danau Toba, dan banyak lagi.” Tanpa aku sadari aku bertepuk tangan mendengar mimpi besar sahabat ku itu. “Makanya nanti pas lulus SMP, aku mau ikut om Charles ke Banjarmasin. Aku mau merantau seperti orang-orang dewasa itu sering bilang.” Rasanya luar biasa kalau aku juga bisa punya semangat dan keberanian seperti Naila. “Aku tidak berani bermimpi sejauh itu.” Lalu hening.

“Aku ada ide!” Ia menorehkan silang dan lingkaran pada kota Manado di peta. Mulai hari ini, kemana pun aku pergi, kamu harus menyilangkan daerah yang aku kunjungi, dan kamu lingkari kalau daerah itu kamu kunjungi!” Ide cemerlang itu seperti memacu keberanianku. “Kita akan liat seberapa banyak kota yang kita kunjungi, Pita!” Ucapnya bersemangat. “Dan hari ini kita baru saja memulai petualangan Puspita Ruus dan Naila Sondakh!” Dan Naila loncat kegirangan, aku mengikutinya tanpa peduli orang-orang di perpustakaan yang memandang kami. Ah Naila, kamu selalu punya cara untukku bersemangat.

  • Ide cerpen ini muncul saat ada lomba menulis antara nulisbuku.com dan tiket.com, dengan tema #FriendshipNeverEnds. Sayang karena waktu aku tidak sempat merealisasikannya. Alhamdulillah, aku bisa mewujudkan sebagian hari ini.
  • #‎NulisRandom2015‬ #Day3
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s